28.1 C
Palembang
Saturday, 25 September 2021
spot_img
SUMSELMuara EnimKisah Hariani, Mantan Anjal Yang Ingin Bisa Baca Tulis, dan Mengaji

Kisah Hariani, Mantan Anjal Yang Ingin Bisa Baca Tulis, dan Mengaji

Baca juga

MUARAENIM,POJOKSUMSEL – Ini kisah Hariani (15), remaja mantan Anak Jalanan (anjal), pencandu narkoba dan mabuk lem yang sembuh setelah mendapat perawatan di tempat Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) Tanjung Enim. Ia baru saja selesai mengikuti Bimbingan Sosial (Bimsos) yang di gelar Dinas Sosial Kabupaten Muara Enim di Hotel Serasan Sekundang 27-28 Juli 2021. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para peserta dapat membangun kembali fungsi sosialnya, secara mental, spiritual dan psikososial. Sehingga para peserta dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab terhadap masyarakat, keluarga dan menjadi masyarakat produktif.

Dibincangi, Maharani didampingi Ketua FPPA Tanjung Enim, Rita Ratnawati Noengtjik mengungkapkan setelah mengikuti bimsos tersebut. Ia senang bisa mendapatkan kesempatan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

“Enak tidur di hotel,”katanya.

Ia menceritakan perjalanan hidupnya sampai bisa berkeliaran di jalan jauh dari kehangatan keluarga. Sejak usia 8 tahun, Hariani sudah hidup di jalan menjadi pemulung bersama temannya yakni Alen Saputra (15), dan satu lagi teman dia sudah berpisah dan tidak ada kabar.

“Memang orang tua tidak melarang saya menjadi pemulung karena kondisi ekonomi keluarga tidak mampu,”kata Hariani,Kamis (29/7/2021).
Kurangnya perhatian orang tua, serta Hidup di jalanan membuat mental dia ditempa keras saat bertemu di lingkungan teman yang sama. Sehingga berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan kesenangan di sela-sela menjalani tantangan keras kehidupan. Ia mulai menggunakan narkoba, serta kecanduan mabuk lem. Dari situ dia bersama temannya senang sehari-hari tidur di jalanan ketimbang kumpul dengan keluarga.

“Sekarang saya sudah tidak lagi kecanduan narkoba dan hidup di jalanan, saya ikut dengan Bunda Rita di FPPA Tanjung Enim. Kedepan saya ingin sekolah, bisa baca tulis, dan mengaji,”ungkapnya.

Hariani dan temannya didampingi Ketua FPPA Tanjung Enim
Hariani dan temannya didampingi Ketua FPPA Tanjung Enim

Sementara itu, Ketua FPPA Tanjung Enim, Rita Ratnawati Noengtjik menerangkan, bahwa sejak tahun 2017, Hariani di ketemukan oleh FPPA Tanjung Enim, ketika itu dia tengah berada di jalanan Tanjung Enim. Saat itu, Ia melihat anak tersebut bersama teman-teman kondisinya sangat buruk, menghirup lem, dan tidur di jalanan.

“Saya temukan Hariani di Jalan, seputar bunderan Air Mancur Tanjung Enim, saya ikuti dan amati berhari-hari lalu saya dekati, dan ajak untuk pulang kerumah. Rani bersama temannya Alen sementara saya rawat di rumah. Karena waktu itu belum ada tempat untuk menampung mereka, setelah saya bujuk mereka mau untuk di rehabilitasi di Dinsos Provinsi Palembang selama kurang lebih dua tahun. Dan selama disana mereka mendapatkan perhatian yang layak, serta didampingi juga dari KPAI,”ungkap Rita.

Setelah sembuh, Hariani di pulangkan ke keluarganya di Tanjung Enim. Namun, lagi-lagi karena tidak ada perhatian dari keluarga, Hariani kembali hidup dijalan menjadi pemulung, karena kawatir dia kembali ke masa lalunya, maka Hariani diajak bergabung oleh Forum Perlindungan Perempuan dan Anak (FPPA) Tanjung Enim.

“Dia sama sekali belum pernah menikmati pendidikan, makanya saya akan usahakan untuk bisa ikut pendidikan non formal kejar paket A. Sehingga dia bisa baca dan tulis, serta mengaji,”jelasnya.
Kemudian, Rita menceritakan awal mula alasan mendirikan FPPA ini mulai dari keinginan, serta jiwa sosialnya yang kuat kepada anak-anak, dan perempuan korban kekerasan, serta gangguan jiwa yang ada di sekitarnya. Apalagi, dengan perkembangan industri yang ada di Tanjung Enim sekarang ini bisa memberikan kontribusi, serta perhatian kepada orang dengan gangguan sosial, serta Orang Dengan gangguan Jiwa (ODGJ) yang ada sekarang.

“Sebagian besar yang mengalami gangguan sosial ini adalah warga kita sendiri, yang ada di sekitar perusahaan-perusahaan tambang, serta pusat pemerintahan Kabupaten Muara Enim. Namun sangat di sayangkan disini belum ada tempat untuk menampung dan merehabilitasi orang-orang dengan gangguan tersebut,”ungkap Rita lagi.

Akhirnya dengan kegiatan nyata yang dilakukan bersama tim di FPPA Tanjung Enim ada perhatian dari pemerintah daerah, perusahaan, hingga para dermawan yang membantu memberikan donasi, maupun bantuan untuk operasional sehari-hari di FPPA Tanjung Enim. Namun yang masih menjadi ganjalan dirinya adalah, kondisi tempat penampungan saat ini di rasa masih kurang luas menampung lebih banyak lagi pasien. FPPA saat ini belum memiliki asrama khusus orang dengan gangguan sosial pria. Hal itu diharapkan bisa menjadi perhatian bersama, khususnya pemerintah dan stekholder yang ada di Kabupaten Muara Enim.

“Untuk operasional sehari-hari, seperti memberikan makan, dan kebutuhan mereka dibantu oleh perusahaan, ada PTBA, PAMA, SBA, BAK, dan bantuan masyarakat yang menjadi donatur tetap, maupun tidak mengikat. Namun saya masih ada PR, yakni ingin membuat asrama untuk laki-laki. Saat ini baru khusus perempuan yang kami tampung,”ulasnya.(res)

Artikel lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Artikel Terbaru