31.1 C
Palembang
Saturday, 26 November 2022
spot_img
NewsNasionalDapat Durian Runtuh, Saldo Kas PTBA Q1-2022 Capai USD1,067 Miliar

Dapat Durian Runtuh, Saldo Kas PTBA Q1-2022 Capai USD1,067 Miliar

Baca juga

RD Sukmana
RD Sukmanahttps://pojoksumsel.com
RD Sukmana merupakan wartawan senior yang lebih suka menyebut dirinya seniman kata-kata daripada wartawan, karena baginya wartawan memiliki filosofi yang sangat luhur.

PojokSumsel.com – Perusahaan-perusahaan batu bara di Indonesia bagai mendapat durian runtuh dengan adanya krisis Rusia-Ukraina. Betapa tidak? Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) merilis laporan delapan perusahaan batu bara Indonesia mencatat saldo kas total sebesar USD6,8 miliar atau Rp101,3 triliun (kurs rupiah Rp14.898) pada kuartal I (Q1) 2022, Selasa (23/08).

Delapan perusahaan batu bara tersebut adalah PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan Geo Energy Resources Ltd (RE4). Kemudian PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Analis IEFFA, Ghee Peh mengatakan, delapan perusahaan batu bara itu mendapat keuntungan besar dengan harga batu bara yang mencapai rekor tertingginya baru-baru ini. Perusahaan batu bara telah sangat diuntungkan dengan harga rata-rata batu bara sebesar USD92 per ton pada Q1-2022, lebih tinggi 29 persen dibandingkan dengan harga rata-rata di sepanjang 2021.

Dalam laporannya, Ghee Peh mengatakan, dengan saldo kas tersebut, upaya transisi menuju energi bersih dapat dipercepat. “Saldo kas sebesar USD6,8 miliar dari perusahaan-perusahaan tersebut pada akhir Q1-2022 dapat membantu pembayaran utang dan mempercepat transisi menuju energi bersih,” ujarnya, seperti dikutip dari cnnindonesia.com.

Ghee Peh memperkirakan, ke depan harga batu bara masih akan tetap tinggi karena perubahan jalur perdagangan yang diakibatkan oleh konflik Rusia-Ukraina ini. Mengingat, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan akan mulai menurunkan impor batu bara dari Rusia pada Q2-2022 dan mengganti suplai dari negara yang lebih jauh, termasuk Indonesia dan Australia.

“Jalur pengiriman batu bara menuju Asia utara akan menjadi semakin jauh dengan pelayaran dari Australia dan Indonesia dibanding dari Rusia. India yang membeli tambahan batu bara dari Rusia juga akan mengakibatkan hambatan dalam jalur pelayaran karena jaraknya yang lebih jauh dibanding Indonesia,” jelas Peh.

Peh menambahkan delapan perusahaan batu bara Indonesia telah menurunkan tingkat utang secara bertahap sejak 2020. Utang menurun dari USD4,1 miliar pada 2020 menjadi USD3,7 miliar di Q1-2022. Dua perusahaan, yaitu Bayan Resources dan Geo Energy Resources bahkan telah menurunkan tingkat utang mereka ke nol.

Belum lagi, delapan perusahaan itu juga hanya menginvestasikan 15 persen dari total saldo kas mereka dalam belanja modal 2020 dan kurang dari 10 persen pada 2021. Tercatat, pada 2021, total belanja modal dari seluruh perusahaan tersebut sebesar USD624 juta dengan sebagian besar dialokasikan untuk infrastruktur, seperti jalan dan peralatan.

Namun, dua perusahaan, yaitu ABM Investama dan PTBA berfokus pada pengembangan proyek baru yang berkaitan dengan batu bara. “Kami menemukan bahwa ABM Investama tengah meningkatkan volume produksi batu bara mereka dan berencana mengakuisisi tambang batu bara baru, sementara PTBA tengah menyatakan rencana pengembangan hilirisasi DME (dimethyl ether) yang bersumber dari batu bara,” imbuh Peh.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia telah menggulirkan penerapan royalti batu bara progresif berdasarkan harga acuan batu bara thermal Indonesia, yang dikenal sebagai Harga Batu Bara Acuan (HBA).

Menurut Kementerian ESDM, nilai royalti baru yang lebih tinggi, yaitu sebesar 28 persen akan berlaku ketika HBA mencapai lebih dari USD100 per ton. Rata-rata HBA untuk Januari hingga Mei 2022 adalah USD222 per ton, sehingga royalti yang lebih tinggi tersebut akan diterapkan.

Peh menerangkan, skema royalti baru dengan nilai 14-28 persen, lebih tinggi dibandingkan nilai sebelumnya sebesar 13,5 persen akan sangat mungkin menghambat rencana penambahan kapasitas baru.

“Hal tersebut dan dengan total USD6,8 miliar saldo kas yang mereka miliki menjadi sebuah kesempatan emas bagi perusahaan-perusahaan batu bara Indonesia untuk mempercepat transisi mereka,” tandasnya.

Artikel lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Artikel Terbaru