25.1 C
Palembang
Wednesday, 12 June 2024
spot_img
spot_img
NewsFilosofi Ketupat yang Wajib Diketahui Umat Muslim Indonesia

Filosofi Ketupat yang Wajib Diketahui Umat Muslim Indonesia

Baca juga

RD Sukmana
RD Sukmanahttps://pojoksumsel.com
RD Sukmana merupakan wartawan senior yang lebih suka menyebut dirinya seniman kata-kata daripada wartawan, karena baginya wartawan memiliki filosofi yang sangat luhur.

PojokSumsel.com – Ketupat, hidangan khas berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa muda (janur), atau kadang-kadang dari jenis daun palma yang lain.

Jenis menu kuliner ini paling banyak ditemui pada saat menjelang perayaan lebaran hingga 5 hari berikutnya. Menu kuliner yang telah menjadi makanan wajib bagi umat Islam yang merayakan berakhirnya puasa dan memeriahkan hari raya.

Sebenarnya, ketupat umum ditemui di luar hari raya, lihat saja menu makanan khas yang biasa menggunakan ketupat, antara lain gado-gado (Jakarta), kupat tahu (Jawa Barat), katupat kandangan (Banjar), grabag (Magelang), kupat glabet (Tegal), katupa coto makassar (Sulawesi Selatan), lotek dan tipat cantok (Bali) hingga sate ayam maupun sate kambing, meskipun penggunaan lontong lebih umum.

Ketupat yang umum kita temui memiliki dua macam bentuk utama, yaitu bentuk kepal bersudut tujuh dan bentuk jajaran genjang bersudut enam. Masing-masing bentuk memiliki alur anyaman yang berbeda.

Dari penulusuran kisah-kisah purbakala, ketupat sebenarnya telah ada sebelum zaman peradaban Islam masuk ke Nusantara atau sebelum penyebaran Islam oleh Wali Songo di tanah Jawa.

Anyaman janur muda yang menjadi cangkang ketupat sudah lazim digantung di atas pintu masuk rumah sebagai jimat di berbagai kalangan masyarakat di Pulau Jawa. Ketupat telah menjadi simbol akan harapan kemakmuran dan banyak digunakan dalam berbagai upacara adat di Nusantara.

Konon pada zaman Kerajaan Pajajaran dan Majapahit, ada tradisi pemujaan pada Dewi Sri yang merupakan dewi pertanian dan kesuburan yang salah satu sesembahannya berupa ketupat. Bahkan hingga kini, masyarakat di Pulau Bali sering memasukkan tipat (sebutan ketupat bagi masyarakat Bali) sebagai sesajian upacara.

Pada awal masuknya agama Islam ke Nusantara yang dibawakan oleh Wali Songo, ketupat semakin diperkenalkan dalam syiar Islam terutama oleh Sunan Kalijaga yang membaurkan pengaruh budaya Hindu pada nilai keislaman, sehingga ada akulturasi budaya antara keduanya.

Hal itu dilakukan Sunan Kalijaga untuk lebih bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan kupat. Asimilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami, ketika ketupat menjadi makanan yang selalu ada di saat umat Islam merayakan lebaran, karena mengandung filosofi yang sangat pas dengan momentum berlebaran.

Ketupat yang lazim disebut kupat oleh masyarakat Jawa dan Sunda, ternyata merupakan singkatan dari “ngaku lepat” atau dalam Bahasa Indonesia artinya mengakui kesalahan. Selain itu, kupat juga berarti “laku papat” atau mengandung filosofi empat laku yang tercermin dari empat sisi ketupat.

“Laku papat” yang menjadi empat sisi ketupat itu adalah:

  1. Lebaran, di mana satu sisi ketupat bermakna lebaran yang berasal dari kata dasar lebar. Ini artinya saling sayang menyayangi dan membuka pintu ampun lebar-lebar untuk orang lain.
  2. Luberan, sebagai sisi kedua ketupat yang berasal dari kata dasar luber, yang artinya melimpah dan memberi sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.
  3. Leburan, sisi ketiga ketupat yang bermakna leburan yang berasal dari kata dasar lebur, bermakna melebur dosa yang dilalui selama satu tahun.
  4. Laburan, sisi terakhir ketupat bermakna laburan yang merupakan kata lain dari labur atau kapur. Nah, kata ini memiliki makna memutihkan atau menyucikan diri kembali seperti bayi.

Tak hanya itu, dilihat bentuknya, ketupat menunjukkan kerumitan anyaman bungkusnya. Hal ini memiliki makna cerminan berbagai kesalahan manusia yang rumit. Ketika dibuka, akhirnya akan terlihat nasi putih di mana mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan. Dari bentuknya, Ketupat mencerminkan kesempurnaan jika dilihat dari bentuknya.

Memang, ketupat tidak hanya ditemukan di Indonesia saja. Ketupat bisa ditemukan juga di kawasan Asia Tenggara maritim lainnya, khususnya negara yang penduduknya ada dari Suku Melayu, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Filipina terutama bagian selatan.

Masing-masing pun meng-klaim ketupat sebagai kuliner asli negara mereka.

Entah bagaimana ceritanya, yang pasti, hanya Indonesia-lah yang memiliki kisah terotentik dari asal muasalnya ketupat. Apalagi bila dihubungkan dengan menu Idulfitri paling digemari oleh umat Islam Indonesia, yakni ketupat-opor yang menghidangkan ketupat dengan opor ayam beserta reng-rengannya, sayur sambal godhog, sambal goreng kentang-ati-pete dan tak ketinggalan kerupuk udang.

Lantas menu kuliner lebaran mana lagikah yang semumpuni ketupat-opor ala Indonesia berikut dengan literasinya yang ada, dan kini bahkan semakin dilirik oleh mancanegara?

Selamat berlebaran.

Artikel lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru